Wayang Gedog

           

sumber: bernas.id

Kesenian wayang di pulau Jawa memiliki beberapa macam jenis dan genre yakni wayang purwa, wayang golek, wayang krucil, serta wayang gedog. Dalam tulisan ini akan membahas mengenai wayang gedog yang membedakan wayang-wayang lainnya. Wayang gedog merupakan salah satu jenis pertunjukan wayang kulit yang bersumber dari kisah Raden Panji yang berasal dari Kerajaan Kediri dan Majapahit. Sehingga, tidak jarang wayang gedog juga sering disebut dengan wayang Panji. Pemberian nama “Gedog” berasal dari “dog dog” yang ditimbulkan dari suara ketukan dalang pada kotak wayang. Namun ada yang mengatakan pula bahwa “Gedog” diartikan sebagai kandang kuda (Jawa) yang mana berasal dari suara hentakan kaki kuda ‘dug dog’. Wayang gedog berkisah tentang Raden Panji Inukertapati atau Panji Asmarabangun sebagai tokoh utama dan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakiran yang merupakan istri dari Raden Panji. Dalam pertunjukannya juga menampilkan kerajaan-kerajaan yang menjadi latar belakang pemerannya antara lain Jenggala, Singasari dan Kediri atau Daha. Istilah Panji sebagai gelar ksatria dan raja muncul pada zaman pemerintahan Jayabaya di Kediri pada abad XI.

            Seni pertunjuakan Wayang Gedog bermula ketika masa kerajaan Demak, tepatnya ketika Sunan Giri memiliki kekuasaan yang kuat. Setelah itu, seni pertunjukan tersebut turun temurun pada kekuasaan dinasti Mataram hingga akhirnya sampai kekuasaan Surakarta. Puncak kejayaan wayang gedog ketika masa kekuasaan pemerintah Paku Buwana IV sampai dengan Paku Buwana X. Saat itu dilakukannya pembuatan wayang gedog diberi nama Kyai Dewakatong, serta disusunnya sulukan yang diambil dari teks Kitab Baratayuda. Pada masa Pakubuwana X, dunia kesenian khususnya wayang gedog dijadikan alat legitimasi politik oleh Kraton Surakarta karena adanya masalah politik dengan pemerintah Belanda.

            Dalam seni wayang gedog terdapat beberapa unsur pendukung, yakni wayang serta iringan yang digunakan dalam pertunjukkannya. Dalam wayang gedog, seorang dalang dituntut untuk menguasai lakon, gending-gending, sulukan,serta tembang yang khusus digunakan dalam pertunjukannya. Tidak hanya itu,dalang pun juga diharapkan dapat paham tentang seluk beluk keraton. Dengan demikian,dapat dikatakan bahwa menjadi dalang wayang gedog merupakan hal yang cukup berat. Selain itu,dalam pertunjukan wayang gedog terdapat kelompok pengrawit yang berfungsi sebagai pengiring musik. Jumlah pengrawit dalam setiap pertunjukan wayang sekitar 15 sampai 30 orang. Dalam wayang gedog, pengrawit juga disebut dengan niyaga, penabuh,atau pradangga. Dalam pertunjukan wayang gedog sulukan yang digunakan berupa laras pelog yang terdiri dari 3 bagian (pathet lima, pathet nem, dan pathet barang).

            Bentuk peraga wayang kulit gedog, mirip sekali dengan wayang kulit purwa. Bentuk sumping, dodot, tangan dan kakinya sama, hanya bentuk sunggingan dan tatahannya yang berbeda. Beberapa tokoh dalam wayang kulit Gedog memakai irah-irahan (tutup kepala) berbentuk tekes, serta kainnya berbentuk rapekan atau dodot.

            Saat ini, dalam perkembangannya Wayang Gedog mengalami kemunduran yang disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya yang mempengaruhi kemunduran Wayang Gedog ialah kurangnya regenerasi dalam pertunjukkan wayang gedog. Hal ini disebabkan oleh tingkat kesulitan dalam mempelajari wayang gedog. Untuk menjadi seorang dalang wayang gedog harus melampaui beberapa aspek yang ada didalam pertunjukan tersebut. Biasanya,para dalang kurang mampu memahami ketrampilan teknik dalam pakeliran wayang gedog sehingga dianggap sangat sukar. Selain itu, gending-gending serta sulukan khusus yang digunakan dalam wayang gedog merupakan salah satu alasan tidak adanya regenerasi para dalang wayang gedog karena terbilang susah. Tidak hanya itu, dalam masyarakat umum kurang mengenalnya cerita-cerita tentang Raden Panji yang mana kurang menarik perhatian masyarakat. Oleh karena itu, untuk mempertahankannya masyarakat harus memiliki motivasi diri untuk mengembangkan atau mengapresiasi wayang gedog sebagai warisan budaya Indonesia yang sudah langka.

            Namun jika ingin mengetahui tentang tampilan wayang gedog, bisa datang ke Museum Radya Pustaka – Surakarta yang memiliki koleksi wayang buatan tahun 1974-1976 atau bisa juga berkunjung ke Museum Wayang, di Kota Tua, Jakarta. Koleksi wayang gedog di museum ini adalah wayang gedog gaya Surakarta yang dibuat tahun 1990.

Sumber :

Sunardi, Bambang Suwarno,Bambang Pujiono. 2013. Pelestarian dan Pengebangan Wayang Gedog. (Jurnal Gelar Seni Budaya,vol 11 no 2) di akses pada 16 Juli 2020 di laman https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/gelar/article/download/1481/1441

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s